Senin, 01 Juni 2020

KAMAR 2204 (Part 1)

Kamar 2204. Aku menerima kunci kamar berbentuk kartu itu dari pegawai hotel nan cantik di meja resepsionist. Seorang room boy menyambutku dan sigap membawakan koporku. “Mari, Bu, saya antar,” ujarnya.

Aku baru saja usai menaruh koperku di dalam kamar, saat tetiba hasrat itu datang tak tertahankan. Pengin pipis. Bergegas aku menuju ke toilet. Tak kukunci. Pintu hanya kututup saja. Toh aku sendiri, apa masalahnya?

Tak sampai lima menit kurasa, hajatku pun tertuntas sudah. Segera kuputar benda bulat yang ada di pintu kamar mandi. Tapi..

Klek, klek. klek..

Pintu bergeming.

Ku coba lagi.

Klik..klek..

Pancasila

Oleh : Tundjungsari

Pikiran visioner
Akhlak terpuji
Negara dijaga
Cinta kepada sesama
Adab  dipiara
Setia pada kebenaran
Istiqomah selalu
Luwes dalam pergaulan
Amanah

PANCASILA

oleh: Sugiharto 

Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa
Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Tiga, Persatuan Indonesia 
Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan
Lima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia  

*

Alhamdulillah, masih ingat. Khawatir lupa meskipun sekedar mengucapkannya. Pasalnya kini aku semakin jarang mengikuti upacara bendera. Beda dengan teman-teman yang berprofesi sebagai guru, bisa dipastikan setiap hari Senin pagi mereka mengucapkannya. Hingga hafal di luar kepala.

Setiap tanggal 1 Juni kita peringati sebagai Hari Kelahiran Pancasila, agar kita tidak lepas dari dasar negara Republik Indonesia di mana kita tinggal di dalamnya. 

Kita dan Bianglala



Oleh Maria Utami

Kita dan bianglala
adalah mozaik semesta
Semangat merona

Kita dan bianglala
sang naga menyala
Kau tertawa

Tak 'Kan Lagi Kutakik Pohon Rindu.

Tirta Ns.


Tak ingin kutakik pohon rindu, karena itu 'kan berbuah nyilu: batangmu tak lagi bergetah seperti dulu; saat semua orang menaruh hormat, dan mengagungkan buah kebesaranmu

Kali ini, biarkan saja kutunggu buah cinta yang tersemai dalam gempita yang entah, yang tak lagi terbaca oleh nalar sehatku..

Korosi jiwa, racun menadi

Aku rindu dulu 
Saat kubaca syair Pancasila itu
Di tanah lapang meruang
Dengan seluruh getar dada menyeru

Tak akan kutakik pohon rindu 
Karena tak ingin ku terperih nyilu 

Wapas, 1 Juni 2020