Senin, 01 Juni 2020

PANCASILA

Oleh Noor Hayati

Kita umpama jari 
Bekerja berlima diri
Tolong menolong setiap hari
Itulah tanda Tuhan memberi
Sepenggal kalimat yang gaungnya masih melekat di hati
Membara menjadi motivasi 
Untuk selalu berbakti 
kepada ibu pertiwi...

Soekarno
Mengawali semangat dihati
Mendobrak segala batas yang memagari persatuan di negeri ini
Melepas kotak- kotak yang membelenggu persatuan dan keutuhan

Dirgahayu Pancasila

Oleh Fredeswinda Wulandari

Menggelagak
Darah bangsa
Mengajak
Semua tuk turut serta

Membakar
Semangat dan asa
Mengakar
Dalam jiwa muda

Menghirup
Udara bebas merdeka
Memompa
Ide ikrar majukan semesta

Kamar 2204 (Part 7)

Sinopsis.
Bagai sebuah petualangan yang menegangkan bagi Miranti. Dia yang mendapat job menjadi narasumber workshop di sebuah hotel berkonsep heritage ini harus mendapatkan sederet teror yang tak menyenangkan. Dari mulai kamar mandi yang tiba-tiba tak bisa dibuka, telpon tengah malam, hingga kedatangan perempuan misterius yang mendadak meminta ijin menumpang tidur. Siapa sebenarnya perempuan itu? Lalu, siapa pula Hannah van Eiken?

Kamar 2204
(Part 7)

“Mbak Diandra, nanti malam, Pak Maksum, dan kawan-kawan biar rapat di kamarku.
Ah, maafkan, aku tak minta pendapat kalian dulu. Yang pasti malam ini, aku tak sendirian dulu. Oh, ya, kebetulan ada Pak Maksum. Beliau akademisi yang nyambi kyai, atau kyai yang berprofesi sebagai akademisi? Tak pentinglah itu. Mungkin nanti aku akan berbicara tentang apa yang terjadi....

Menyatukan Dua Hati

Oleh Indah Zein

Ada nada yang hilang sedari Minggu kemarin. Biasanya tegur sapa hadir meski di grup. Muncul barisan puisi indah yang menggoda dan menggelayut mata. Namun, sedari Minggu kemarin ia tak tampak. Aku diam tanpa menelisik. Ah, mungkin sedang menghabiskan hari bahagia di sana.

Beberapa waktu terlewat. Aku membuka kabar pesan. Lagi-lagi tak kutemui namanya muncul meramaikan suasana. Seperti biasa. Sudah lupakan dia pada kehangatan perjumpaan kami? Ah, tak mau aku menggoda kehidupannya.

Iseng ku kirim pesan pribadi ke nomor wa ratu robusta ini. hampir lima jam baru terbaca dan dibalas. Gemas rasanya ingin kujitak saja. Tapi takut durhaka.

[Kemana bunda?]

[Rebahan kan masih pandemi]

Pancasilaku Menyala

Oleh Indah Zein

Sejatinya kau adalah bara
Menyalakan pekat dan membakar semangat

Engkau sajadah terbentang
Berbaris rapi maneka rupa
Menyatukan nada

Lahirmu adalah rancak juang
Biar darah dan peluh pengorbanan
Menyapu lembut padang rumput hijau membentang